A. Keadaan Penduduk Jepang Secara Umum
1. Agama
Orang
Ainu dianggap sebagai penduduk pertama Jepang. Mereka mempunyai
ciri-ciri yang berbeda dengan orang Jepang pada umumnya, seperti kepala
lonjong, tubuh berbulu, mata tidak sipit, dan rambut tidak kejur.
Kebanyakan orang Ainu yang masih asli hidup di Pulau Hokaido.
Kepercayaan yang dianut oleh penduduk jepang yaitu Budha, Shinto, dan
Kong Hu Chu. Agama Budha dipeluk oleh lebih dari 73% penduduk yang
sebagian besar diantaranya sekaligus menganut agama Shinto, agama
pribumi yang berasal dari kepercayaan Animisme kuno, yang berkaitan
dengan penyembahan nenek moyang dan keluarga Kaisar.
Di
zaman kekuasaan militer tahun 1930-an, agama Shinto merupakan agama
negara dan secara resmi dibantu selama perang dunia dua. Sekarang,
kebebasan untuk semua agama dijamin. Tidak ada agama yang menerima
bantuan pemerintah dan tidak ada pengajaran agama di sekolah umum. Agama
Kong Hu Chu, yang sebenarnya lebih merupakan suatu ajaran filsafat
moral dan sosial dari pada ajaran agama, masuk ke Jepang dalam abad
ke-6, dan pengaruhnya sangat besar terhadap pikiran dan tingkah laku
orang Jepang.
2. Kebudayaan
Agama
ternyata telah menjadi sumber ilmiah bagi kesenian Jepang. Drama tari
Noh berakar dari tari dan upacara keagamaan abad ke-13. Dari Noh dan
Bunkaru (drama boneka) muncullah Kabuki, bentuk drama yang paling
terkenal di Jepang. Bahkan, seni-seni seperti Ikebana (seni merangkai
bunga) dan Bonsai (seni mengkerdilkan pohon yang ditanam dalam pot) pun
pada mulanya juga memiliki makna keagamaan. Namun demikian, sementara
semuan seni ini berhasil membangkitkan minat dunia luar, orang Jepang
sendiri banyak yang justru tenggelam dalam pengaruh barat. Kendati olah
raga tradisional seperti Sumo (gulat Jepang), Judo, dan Kendo masih
memiliki banyak penggemar, justru baseball yang menjadi olahraga
nasional.
![]() |
Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula Cina dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar 300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, mempengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II. Jepang turut mengembangkan budaya yang original dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang.
Kini, Jepang merupakan salah satu pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend
baru dan kegemaran mengikut gaya mereka mempengaruhi mode dan trend
seluruh dunia. Pasar muda-mudi yang amat baik merupakan ujian untuk
produk-produk elektronik konsumen yang baru, di mana gaya dan fungsinya
ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan
ke seluruh dunia.
Baru-baru ini Jepang mulai mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai Jepang.
Orang
Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar
acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan penghasilan
makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di
seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi.
Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang
bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.
B. Kuantitas Penduduk Jepang
Jepang termasuk salah satu negara di dunia yang penduduknya banyak. Populasi Jepang diperkirakan sekitar 127,614 juta orang (perkiraan 1 Februari 2009). Penduduk asli jepang disebut suku Yamato dan kelompok minoritas utama yang terdiri dari penduduk asli suku Ainu (kini masih terdapat di pulau Honshu dan Hokkaido) dan Ryukyu, ditambah kelompok minoritas secara sosial yang disebut burakumin.
Kemudian bangsa mongoloid masuk secara bertahap dan sekarang merupakan
penduduk mayoritas, setelah mereka bercampur dengan pendatang lain yang
termasuk ke dalam kelompok ras protomelayu.
![]() |
Dipandang
dari sudut manapun, kepadatan penduduk Jepang tergolong tinggi,
terutama di daerah perkotaannya. Pertumbuhan penduduk daerah perkotaan
sebenarnya bukan gejala baru di Jepang, karena kota-kota kunonya seperti
Kyoto, dan Nara, telah berdiri sejak abad ke-8, dan banyak kota
kerajaan yang didirikan di negeri ini antara tahun 1580 dan 1620. Pada
tahun 1720, kota Edo (Tokyo) telah memiliki penduduk lebih dari satu
juta, dan mungkin merupakan kota terpadat di dunia pada saat itu.
Meskipun demikian, pada jaman feodal, lebih menonjol ciri pedesaan.
Dalam tahun 1850, mungkin hanya 10% penduduk yang hidup di kota
berpenduduk lebih dari 10.000 orang. Sekarang ini lebih dari 76%
penduduk hidup di kota (besar dan kecil), kira-kira 60% diantaranya
hidup berjejal-jejal di daerah-daerah metropolitan yang paling besar,
yaitu Tokyo, Osaka, dan Nagoya.
1. Tingkat Pertumbuhan Penduduk
Populasi
Jepang diperkirakan sekitar 127,614 juta orang (perkiraan 1 Februari
2009). Masyarakat Jepang homogen dalam etnis, budaya dan bahasa, dengan
sedikit populasi pekerja asing. Di antara sedikit penduduk minoritas di
Jepang terdapat orang Korea Zainichi, Cina Zainichi, orang Filipina,
orang Brazil-Jepang, dan orang Peru-Jepang. Pada 2003, ada sekitar
136.000 orang Barat yang menjadi ekspatriat di Jepang.
Pada
tahun 2006, tingkat harapan hidup di Jepang adalah 81,25 tahun, dan
merupakan salah satu tingkat harapan hidup tertinggi di dunia. Namun
populasi Jepang dengan cepat menua sebagai dampak dari ledakan kelahiran
pascaperang diikuti dengan penurunan tingkat kelahiran. Pada tahun
2004, sekitar 19,5% dari populasi Jepang sudah berusia di atas 65 tahun.
Perubahan dalam struktur demografi menyebabkan sejumlah masalah sosial,
terutama kecenderungan menurunnya populasi angkatan kerja dan
meningkatnya biaya jaminan sosial seperti uang pensiun. Masalah lain
termasuk meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah
atau memiliki keluarga ketika dewasa.
Populasi
Jepang dikhawatirkan akan merosot menjadi 100 juta pada tahun 2050 dan
makin menurun hingga 64 juta pada tahun 2100. Pakar demografi dan
pejabat pemerintah kini dalam perdebatan hangat mengenai cara menangani
masalah penurunan jumlah penduduk. Imigrasi dan insentif uang untuk kelahiran bayi sering disarankan sebagai pemecahan masalah penduduk Jepang yang semakin menua.
![]() |
Berikut ini adalah daftar peringkat wilayah metropolitan di Jepang
|
Peringkat
|
Luas
|
Prefektur
|
Kota pusat
|
Populasi wilayah
|
|
01
|
23 special wards area, Yokohama, Kawasaki, Chiba
|
34.493.466
| ||
|
02
|
18.643.915
| |||
|
03
|
8,738,842
| |||
|
04
|
5,418,537
| |||
|
05
|
Sapporo
|
2,509,530
| ||
|
06
|
Sendai
|
2,186,397
| ||
|
07
|
Hiroshima
|
2,043,788
| ||
|
08
|
Okayama
|
1,612,756
| ||
|
09
|
Kumamoto
|
1,462,478
| ||
|
10
|
Niigata
|
1,349,573
| ||
|
11
|
Hamamatsu
|
1,226,890
| ||
|
12
|
Kagoshima
|
1,087.447
|
Tingkat
kematian di Jepang pada tahun 2008 mengalami kenaikan tertinggi sejak
akhir perang dunia ke dua. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan
Kesejahteraan mengumumkan jumlah kematian pada tahun 2008 meningkat
sebanyak 33.774 menjadi 1.153.266. Angka kematian tertinggi pertama
kali seusai perang dunia ke dua tercatat pada tahun 1947 yang sebesar
1.138.238 Angka kematian pada tahun 2008. Setelah itu, jumlah kematian
terus menurun sampai tahun 1970-an. Namun dengan naiknya jumlah penduduk
lanjut usia, yang meningkat sejak tahun 1980, maka untuk pertama
kalinya tingkat kematian mencapai angka satu juta jiwa pada tahun 2003.
Penurunan
tingkat kelahiran mungkin dapat dikaitkan dengan meningkatnya usia ibu
melahirkan. Rata-rata usia ibu saat melahirkan pertama naik dari 25,6
tahun di 1.970 menjadi usia 29,5 tahun pada 2008. Harapan hidup
rata-rata naik tajam di Jepang setelah Perang Dunia II, dan saat ini
pada tingkat tertinggi di dunia. Pada tahun 2008, harapan hidup saat
kelahiran adalah 86,05 tahun untuk wanita dan 79,29 tahun bagi
laki-laki.
Tingkat
kematian diperkirakan akan lebih besar 10 ribu dibandingkan angka
kelahiran. Sedangkan migrasi ke dalam negeri tidak akan dapat
mengatasinya. Pengurangan yang sudah diperkirakan selama beberapa tahun
ini disebabkan penurunan angka kelahiran dan peningkatan kematian karena
influenza. Pemerintah mengakui berkurangnya jumlah penduduk akan
merusak kesehatan ekonomi Jepang untuk jangka panjang.
![]() |
Data
terakhir menunjukkan jumlah kelahiran, yang sudah menurun sejak tahun
1970-an, diperkirakan akan kembali turun 44 ribu menjadi 1.067.000 pada
tahun 2005. Angka kematian naik 48 ribu menjadi 1.077.000 sementara
penduduk Jepang yang menua cenderung terkena penyakit seperti influenza.
Badan penelitian penduduk Jepang menyebutkan bahkan jika migrasi warga
asing diperhitungkan, jumlah penduduk tetap akan turun sebesar empat
ribu pada tahun 2005.
2. Struktur Penduduk Jepang
Di
Jepang pada tahun 2001, terdapat 14.330 orang berusia > 100 tahun
dan Jepang memiliki kurang lebih 25.000 orang berusia >100 tahun. Di
Jepang, usia harapan hidup pria adalah pada umur 78 tahun dan wanita
pada umur 85 tahun. Pada tahun 2008, penduduk usia muda sebesar 17.18
juta, atau sebesar 13.5% dari total jumlah penduduk, tingkat terendah
pada catatan sejak Population Estimates dimulai.
![]() |
Untuk
mengantisipasi masalah penurunan populasi penduduk muda, pemerintah
Jepang memfasilitasi berbagai program dan pembelajaran tentang demography pada para siswa di sekolah maupun media massa. Termasuk membentuk beberapa children care centre atau woman centre yang
disponsori oleh pemerintah kota. Ada beberapa program yang dikembangkan
oleh pemerintah-pemerintah setempat dan didukung oleh warga dan
sekolah, di antaranya Family support, soudan centre (Biro konsultasi).
C. Kualitas Penduduk Jepang
1. Pendidikan
Pendidikan di Jepang mencakup pendidikan formal di sekolah, pendidikan moral di rumah, dan pendidikan masyarakat (pendidikan seumur hidup). Pendidikan
di Jepang sangat kompetitif, khususnya dalam ujian masuk perguruan
tinggi. Dua peringkat teratas universitas di Jepang ditempati oleh Universitas Tokyo dan Universitas Keio. Dalam peringkat yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, pengetahuan dan keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada di peringkat nomor enam terbaik di dunia.
Pendidikan
dasar dan menengah, serta pendidikan tinggi diperkenalkan di Jepang
pada 1872 sebagai hasil Restorasi Meiji. Sejak 1947, program wajib
belajar di Jepang mewajibkan setiap warga negara untuk untuk bersekolah
selama 9 tahun di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (dari usia 6
hingga 15 tahun). Di kalangan penduduk berusia 15 tahun ke atas,
tingkat melek huruf sebesar 99%, laki-laki: 99%; perempuan: 99% (2002).
Hampir
semua murid meneruskan ke Sekolah Menengah Atas, dan menurut MEXT
sekitar 75,9% lulusan sekolah menengah atas pada tahun 2005 melanjutkan
ke universitas, akademi, sekolah keterampilan, atau lembaga pendidikan
tinggi lainnya. Pendidikan di Jepang sangat kompetitif, khususnya dalam
ujian masuk perguruan tinggi. Dua peringkat teratas universitas di
Jepang ditempati oleh Universitas Tokyo dan Universitas Keio. Dalam
peringkat yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari
OECD, pengetahuan dan keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada
di peringkat nomor enam terbaik di dunia.
Sekolah negeri (kōritsu gakkō?)
diselenggarakan oleh pemerintah prefektur atau pemerintah kota, dan
kadang-kadang oleh pemerintah pusat. Sebagian besar Sekolah Dasar Negeri
dan Sekolah Menengah Pertama Negeri dikelola pemerintah kota. Sebagian
besar Sekolah Menengah Atas dikelola oleh pemerintah prefektur, dan
kadang-kadang oleh pemerintah kota. Sekolah swasta (shiritsu gakkō?) diselenggarakan oleh badan hukum.
Sistem
pendidikan di Jepang dibangun atas prinsip-prinsip: Legalisme,
Administrasi yang demokratis, Netralitas, Penyesuaian dan penetapan
kondisi pendidikan serta Desentralisasi. Sistem administrasi pendidikan
dibangun dalam empat tingkat: pusat, prefectural (antara propinsi dan
kabupaten), municipal (antara kabupaten dan kecamatan), dan sekolah.
Masing-masing tingkat administrasi pendidikan tersebut mempunyai peran
dan kewenangan yang saling mengisi dan bersifat kerjasama. Disamping
itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang
tua yang mendukung pengembangan sekolah.
2. Ketenagakerjaan
Di
Jepang, penduduk yang berusia 65 tahun ke atas mengalami penurunan
pendapatan namun konsumsi meningkat. Sedangkan penduduk yang berusia
antara 30-65 tahun mengalami situasi dimana pendapatan lebih besar
daripada konsumsi, dan yang berusia di bawah 30 tahun konsumsinya lebih
besar atau sama dengan pendapatannya. Perubahan
dalam struktur demografi menyebabkan sejumlah masalah sosial, terutama
kecenderungan menurunnya populasi angkatan kerja dan meningkatnya biaya
jaminan sosial seperti uang pensiun. Masalah lain termasuk meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki keluarga ketika dewasa. Hal
ini akan memperlambat potensi pertumbuhan terutama karena berkurangnya
jumlah tenaga kerja dan turunnya tingkat suku bunga tabungan domestik.
Dampak lebih jauh dari hal ini adalah Jepang akan menjadi negara maju
pertama yang mengalami declining population.
Untuk
mengatasi hal ini, Dewan Kebijakan Ekonomi dan Fiskal (DKEF) dikabarkan
tengah merumuskan strategi baru ekonomi global Jepang. Salah satu
anggota DKEF, Profesor Motoshige Ito dari Universitas Tokyo, telah
merekomendasikan agar Pemerintah Jepang menerima lebih banyak pekerja
asing sebagai upaya untuk menyiasati kekurangan tenaga kerja di Jepang.
Pendapat Prof. Ito tersebut tampaknya dilatarbelakangi oleh laporan OECD
(2005) yang menyebutkan bahwa pekerja asing di Jepang hanya memegang
andil sebanyak 0,3% dari total tenaga kerja, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan anggota OECD yang lain. Padahal kebutuhan pekerja
asing ini jauh lebih besar daripada yang ada saat ini, terutama untuk
bidang keperawatan dan sektor jasa.
![]() |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar