Jumat, 30 Januari 2015

KUANTITAS DAN KUALITAS PENDUDUK JEPANG


A.    Keadaan Penduduk Jepang Secara Umum
1.      Agama
Orang Ainu dianggap sebagai penduduk pertama Jepang. Mereka mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan orang Jepang pada umumnya, seperti kepala lonjong, tubuh berbulu, mata tidak sipit, dan rambut tidak kejur. Kebanyakan orang Ainu yang masih asli hidup di Pulau Hokaido. Kepercayaan yang dianut oleh penduduk jepang yaitu Budha, Shinto, dan Kong Hu Chu. Agama Budha dipeluk oleh lebih dari 73% penduduk yang sebagian besar diantaranya sekaligus menganut agama Shinto, agama pribumi yang berasal dari kepercayaan Animisme kuno, yang berkaitan dengan penyembahan nenek moyang dan keluarga Kaisar.
Di zaman kekuasaan militer tahun 1930-an, agama Shinto merupakan agama negara dan secara resmi dibantu selama perang dunia dua. Sekarang, kebebasan untuk semua agama dijamin. Tidak ada agama yang menerima bantuan pemerintah dan tidak ada pengajaran agama di sekolah umum. Agama Kong Hu Chu, yang sebenarnya lebih merupakan suatu ajaran filsafat moral dan sosial dari pada ajaran agama, masuk ke Jepang dalam abad ke-6, dan pengaruhnya sangat besar terhadap pikiran dan tingkah laku orang Jepang.

2.      Kebudayaan
Agama ternyata telah menjadi sumber ilmiah bagi kesenian Jepang. Drama tari Noh berakar dari tari dan upacara keagamaan abad ke-13. Dari Noh dan Bunkaru (drama boneka) muncullah Kabuki, bentuk drama yang paling terkenal di Jepang. Bahkan, seni-seni seperti Ikebana (seni merangkai bunga) dan Bonsai (seni mengkerdilkan pohon yang ditanam dalam pot) pun pada mulanya juga memiliki makna keagamaan. Namun demikian, sementara semuan seni ini berhasil membangkitkan minat dunia luar, orang Jepang sendiri banyak yang justru tenggelam dalam pengaruh barat. Kendati olah raga tradisional seperti Sumo (gulat Jepang), Judo, dan Kendo masih memiliki banyak penggemar, justru baseball yang menjadi olahraga nasional.


 










Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula Cina dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar 300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, mempengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II. Jepang turut mengembangkan budaya yang original dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang.
Kini, Jepang merupakan salah satu pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan kegemaran mengikut gaya mereka mempengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasar muda-mudi yang amat baik merupakan ujian untuk produk-produk elektronik konsumen yang baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.
Baru-baru ini Jepang mulai mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai Jepang.
Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan penghasilan makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.

B.     Kuantitas Penduduk Jepang
Jepang termasuk salah satu negara di dunia yang penduduknya banyak. Populasi Jepang diperkirakan sekitar 127,614 juta orang (perkiraan 1 Februari 2009). Penduduk asli jepang disebut suku Yamato dan kelompok minoritas utama yang terdiri dari penduduk asli suku Ainu (kini masih terdapat di pulau Honshu dan Hokkaido) dan Ryukyu, ditambah kelompok minoritas secara sosial yang disebut burakumin. Kemudian bangsa mongoloid masuk secara bertahap dan sekarang merupakan penduduk mayoritas, setelah mereka bercampur dengan pendatang lain yang termasuk ke dalam kelompok ras protomelayu.



 











Dipandang dari sudut manapun, kepadatan penduduk Jepang tergolong tinggi, terutama di daerah perkotaannya. Pertumbuhan penduduk daerah perkotaan sebenarnya bukan gejala baru di Jepang, karena kota-kota kunonya seperti Kyoto, dan Nara, telah berdiri sejak abad ke-8, dan banyak kota kerajaan yang didirikan di negeri ini antara tahun 1580 dan 1620. Pada tahun 1720, kota Edo (Tokyo) telah memiliki penduduk lebih dari satu juta, dan mungkin merupakan kota terpadat di dunia pada saat itu. Meskipun demikian, pada jaman feodal, lebih menonjol ciri pedesaan. Dalam tahun 1850, mungkin hanya 10% penduduk yang hidup di kota berpenduduk lebih dari 10.000 orang. Sekarang ini lebih dari 76% penduduk hidup di kota (besar dan kecil), kira-kira 60% diantaranya hidup berjejal-jejal di daerah-daerah metropolitan yang paling besar, yaitu Tokyo, Osaka, dan Nagoya.
1.       Tingkat Pertumbuhan Penduduk
Populasi Jepang diperkirakan sekitar 127,614 juta orang (perkiraan 1 Februari 2009). Masyarakat Jepang homogen dalam etnis, budaya dan bahasa, dengan sedikit populasi pekerja asing. Di antara sedikit penduduk minoritas di Jepang terdapat orang Korea Zainichi, Cina Zainichi, orang Filipina, orang Brazil-Jepang, dan orang Peru-Jepang. Pada 2003, ada sekitar 136.000 orang Barat yang menjadi ekspatriat di Jepang.
Pada tahun 2006, tingkat harapan hidup di Jepang adalah 81,25 tahun, dan merupakan salah satu tingkat harapan hidup tertinggi di dunia. Namun populasi Jepang dengan cepat menua sebagai dampak dari ledakan kelahiran pascaperang diikuti dengan penurunan tingkat kelahiran. Pada tahun 2004, sekitar 19,5% dari populasi Jepang sudah berusia di atas 65 tahun. Perubahan dalam struktur demografi menyebabkan sejumlah masalah sosial, terutama kecenderungan menurunnya populasi angkatan kerja dan meningkatnya biaya jaminan sosial seperti uang pensiun. Masalah lain termasuk meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki keluarga ketika dewasa.
Populasi Jepang dikhawatirkan akan merosot menjadi 100 juta pada tahun 2050 dan makin menurun hingga 64 juta pada tahun 2100. Pakar demografi dan pejabat pemerintah kini dalam perdebatan hangat mengenai cara menangani masalah penurunan jumlah penduduk.  Imigrasi dan insentif uang untuk kelahiran bayi sering disarankan sebagai pemecahan masalah penduduk Jepang yang semakin menua.


 


















Berikut ini adalah daftar peringkat wilayah metropolitan di Jepang
Peringkat
Luas
Prefektur
Kota pusat
Populasi wilayah
01
34.493.466
02
18.643.915
03
8,738,842
04
5,418,537
05
Sapporo
2,509,530
06
Sendai
2,186,397
07
Hiroshima
2,043,788
08
Okayama
1,612,756
09
Kumamoto
1,462,478
10
Niigata
1,349,573
11
Hamamatsu
1,226,890
12
Kagoshima
1,087.447

Tingkat kematian di Jepang pada tahun 2008 mengalami kenaikan tertinggi sejak akhir perang dunia ke dua. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan mengumumkan jumlah kematian pada tahun 2008 meningkat sebanyak 33.774 menjadi 1.153.266. Angka kematian tertinggi pertama kali seusai perang dunia ke dua tercatat pada tahun 1947 yang sebesar 1.138.238 Angka kematian pada tahun 2008. Setelah itu, jumlah kematian terus menurun sampai tahun 1970-an. Namun dengan naiknya jumlah penduduk lanjut usia, yang meningkat sejak tahun 1980, maka untuk pertama kalinya tingkat kematian mencapai angka satu juta jiwa pada tahun 2003.
Penurunan tingkat kelahiran mungkin dapat dikaitkan dengan meningkatnya usia ibu melahirkan. Rata-rata usia ibu saat melahirkan pertama naik dari 25,6 tahun di 1.970 menjadi usia 29,5 tahun pada 2008. Harapan hidup rata-rata naik tajam di Jepang setelah Perang Dunia II, dan saat ini pada tingkat tertinggi di dunia. Pada tahun 2008, harapan hidup saat kelahiran adalah 86,05 tahun untuk wanita dan 79,29 tahun bagi laki-laki.
Tingkat kematian diperkirakan akan lebih besar 10 ribu dibandingkan angka kelahiran. Sedangkan migrasi ke dalam negeri tidak akan dapat mengatasinya. Pengurangan yang sudah diperkirakan selama beberapa tahun ini disebabkan penurunan angka kelahiran dan peningkatan kematian karena influenza. Pemerintah mengakui berkurangnya jumlah penduduk akan merusak kesehatan ekonomi Jepang untuk jangka panjang.


 











Data terakhir menunjukkan jumlah kelahiran, yang sudah menurun sejak tahun 1970-an, diperkirakan akan kembali turun 44 ribu menjadi 1.067.000 pada tahun 2005. Angka kematian naik 48 ribu menjadi 1.077.000 sementara penduduk Jepang yang menua cenderung terkena penyakit seperti influenza. Badan penelitian penduduk Jepang menyebutkan bahkan jika migrasi warga asing diperhitungkan, jumlah penduduk tetap akan turun sebesar empat ribu pada tahun 2005.

2.      Struktur Penduduk Jepang
Di Jepang pada tahun 2001, terdapat 14.330 orang berusia > 100 tahun dan Jepang memiliki kurang lebih 25.000 orang berusia >100 tahun. Di Jepang, usia harapan hidup pria adalah pada umur 78 tahun dan wanita pada umur 85 tahun. Pada tahun 2008, penduduk usia muda sebesar 17.18 juta, atau sebesar 13.5% dari total jumlah penduduk, tingkat terendah pada catatan sejak Population Estimates dimulai.



Gambar 2.3 Perubahan dalam Piramida Penduduk
 













Untuk mengantisipasi masalah penurunan populasi penduduk muda, pemerintah Jepang memfasilitasi berbagai program dan pembelajaran tentang demography pada para siswa di sekolah maupun media massa. Termasuk membentuk beberapa children care centre atau woman centre yang disponsori oleh pemerintah kota. Ada beberapa program yang dikembangkan oleh pemerintah-pemerintah setempat dan didukung oleh warga dan sekolah, di antaranya Family support, soudan centre (Biro konsultasi).



C.    Kualitas Penduduk Jepang
1.      Pendidikan
Pendidikan di Jepang mencakup pendidikan formal di sekolah, pendidikan moral di rumah, dan pendidikan masyarakat (pendidikan seumur hidup). Pendidikan di Jepang sangat kompetitif, khususnya dalam ujian masuk perguruan tinggi. Dua peringkat teratas universitas di Jepang ditempati oleh Universitas Tokyo dan Universitas Keio. Dalam peringkat yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, pengetahuan dan keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada di peringkat nomor enam terbaik di dunia.
Pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan tinggi diperkenalkan di Jepang pada 1872 sebagai hasil Restorasi Meiji. Sejak 1947, program wajib belajar di Jepang mewajibkan setiap warga negara untuk untuk bersekolah selama 9 tahun di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (dari usia 6 hingga 15 tahun). Di kalangan penduduk berusia 15 tahun ke atas, tingkat melek huruf sebesar 99%, laki-laki: 99%; perempuan: 99% (2002).
Hampir semua murid meneruskan ke Sekolah Menengah Atas, dan menurut MEXT sekitar 75,9% lulusan sekolah menengah atas pada tahun 2005 melanjutkan ke universitas, akademi, sekolah keterampilan, atau lembaga pendidikan tinggi lainnya. Pendidikan di Jepang sangat kompetitif, khususnya dalam ujian masuk perguruan tinggi. Dua peringkat teratas universitas di Jepang ditempati oleh Universitas Tokyo dan Universitas Keio. Dalam peringkat yang disusun Program Penilaian Pelajar Internasional dari OECD, pengetahuan dan keterampilan anak Jepang berusia 15 tahun berada di peringkat nomor enam terbaik di dunia.
Sekolah negeri (kōritsu gakkō?) diselenggarakan oleh pemerintah prefektur atau pemerintah kota, dan kadang-kadang oleh pemerintah pusat. Sebagian besar Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Menengah Pertama Negeri dikelola pemerintah kota. Sebagian besar Sekolah Menengah Atas dikelola oleh pemerintah prefektur, dan kadang-kadang oleh pemerintah kota. Sekolah swasta (shiritsu gakkō?) diselenggarakan oleh badan hukum.
Sistem pendidikan di Jepang dibangun atas prinsip-prinsip: Legalisme, Administrasi yang demokratis, Netralitas, Penyesuaian dan penetapan kondisi pendidikan serta Desentralisasi. Sistem administrasi pendidikan dibangun dalam empat tingkat: pusat, prefectural (antara propinsi dan kabupaten), municipal (antara kabupaten dan kecamatan), dan sekolah. Masing-masing tingkat administrasi pendidikan tersebut mempunyai peran dan kewenangan yang saling mengisi dan bersifat kerjasama. Disamping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah.

2.    Ketenagakerjaan
Di Jepang, penduduk yang berusia 65 tahun ke atas mengalami penurunan pendapatan namun konsumsi meningkat. Sedangkan penduduk yang berusia antara 30-65 tahun mengalami situasi dimana pendapatan lebih besar daripada konsumsi, dan yang berusia di bawah 30 tahun konsumsinya lebih besar atau sama dengan pendapatannya. Perubahan dalam struktur demografi menyebabkan sejumlah masalah sosial, terutama kecenderungan menurunnya populasi angkatan kerja dan meningkatnya biaya jaminan sosial seperti uang pensiun. Masalah lain termasuk meningkatkan generasi muda yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki keluarga ketika dewasa. Hal ini akan memperlambat potensi pertumbuhan terutama karena berkurangnya jumlah tenaga kerja dan turunnya tingkat suku bunga tabungan domestik. Dampak lebih jauh dari hal ini adalah Jepang akan menjadi negara maju pertama yang mengalami declining population.
Untuk mengatasi hal ini, Dewan Kebijakan Ekonomi dan Fiskal (DKEF) dikabarkan tengah merumuskan strategi baru ekonomi global Jepang. Salah satu anggota DKEF, Profesor Motoshige Ito dari Universitas Tokyo, telah merekomendasikan agar Pemerintah Jepang menerima lebih banyak pekerja asing sebagai upaya untuk menyiasati kekurangan tenaga kerja di Jepang. Pendapat Prof. Ito tersebut tampaknya dilatarbelakangi oleh laporan OECD (2005) yang menyebutkan bahwa pekerja asing di Jepang hanya memegang andil sebanyak 0,3% dari total tenaga kerja, jauh lebih rendah dibandingkan dengan anggota OECD yang lain. Padahal kebutuhan pekerja asing ini jauh lebih besar daripada yang ada saat ini, terutama untuk bidang keperawatan dan sektor jasa.


 













Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar